Rabu, 07 November 2012
Peradaban Mohenjodaro dan Harrapa
I.
PENDAHULUAN
India adalah negeri yang serba
ganda, ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan ganda dalam soal
kepercayaan. Oleh sebab itu, mempelajari agama Hindu terasa mengalami
kesulitan. Jika kita lihat dari sudut pandang ilmu bangsa-bangsa, India adalah
tanah yang beraneka ragam dan akibatnya ialah orang dapat melihat suatu
kebudayaan yang beraneka ragam. Jika kita ibaratkan, agama Hindu itu seperti
pohon besar yang memiliki cabang yang sangat banyak yang melambangkan berbagai
pemikiran keagamaan.
Namun itu tidak menyurutkan niat
penulis untuk membuat makalah ini. Dan untuk mempermudah dalam pemahaman,
penulis berusaha menunjukan garis-garis
besar yang menghubungkan berbagai gejala dan aliran itu yang satu dengan yang
lain .
II.
Asal Usul Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama yang tertua
di dunia. Di India, agama Hindu sering disebut dengan nama Sanatana Dharma
yang berarti agama yang kekal, atau Waidika Dharma, yang berarti agama
yang berdasarkan kitab suci Weda.[1]
Nama Hindu yang sekarang lazim
dikenal dan telah dipergunakan secara umum di seluruh dunia, merupakan nama
asing karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu.[2]
Nama India dijelaskan dari nama sungai Sindbu, yang mengairi daerah barat
India. Bangsa Persia menyebut sungai itu sungai Hindu. Kemudian nama ini
diambil alih oleh orang Yunani, sehingga nama itulah yang terkenal di dunia
barat. [3]
III.
Sejarah India Kuno
Agama Hindu
adalah agama agama pokok yang dianut di kawasan India. Agama ini banyak
didasarkan pada beberapa naskah suci yang ada. Tidak seperti agama-agama lain,
dalam agama Hindu tidak dapat diketahui secara pasti siapa pembawa pertama
ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu kesulitan dalam mempelajari agama
Hindu.
Sejarah
kebudayaan India dimulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang
besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi,
rupa-rupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya
menyerupai kebudayaan bangsa Sumeri didaerah sungai Eftar dan Tigris. Berbagai
cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan
lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita adanya persesuaian di dalam
peradaban tersebut. Sudah pasti, bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai
dari laut tengah sampai keteluk benggala terdapat sejenis peradaban yang sama
dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan
tersebutterutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara
Karachi. Bahkan di situ diketemukan sisa-sisa sebuah kota Mohenjodaro, di mana
ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.[4]
Menurut para
sarjana, agama Hindu terbentuk dari campuran antara agama India asli (bangsa
Dravida) dengan agama atau kepercayaan bangsa Arya.
Peradaban
Lembah Sungai Indus
Peradaban India kuno dikenal
sebagai peradaban Lembah sungai Indus. Luas geografi wilayah peradaban ini
meliputi 1,25 juta km atau seluas Pakistan sekarang. Dua kota yang sangat
terkenal ini adalah Mohenjodaro di wilayah Pakistan Selatan sekarang dan
Harappa di daerah Punjab.
Kemakmuran
peradaban Lembah Sungai Indus sangat bergantung pada intensifikasi pengelolaah
lahan pertanian di sepanjang lembah. Di kawasan ini, petani mengembangkan
budaya agraris. Dari hasil itu, mereka mampu menghasilkan gandum, sayuran, dan
kapas. Petani juga beternak sapi, kerbau, dan babi.
Peradaban
sungai Indus berkembang selama kurang lebih seribu tahun. Namun,peradaban
tersebut tampak muncul secara singkat dalam sejarah peradaban umat manusia
karena mengalami kehancuran.[5]
Peradaban Mohenjodaro dan Harappa
Dalam mempelajari peradaban dunia nama Indus lebih jauh
lebih popular. Hal itu berhubungan dengan adanyapenemuan besar pada apabd ke 20
oleh jawaran Pemeriksaan kebudayaan kuno di India. Ketika itu mereka sedang
melakukan penggalian tanah di sebuah kampong bernama Mohenjo-Daro dan Harappa
yang berada ditepi lembah sungai Indus.
Penggalian itu menghasilkan barang-barang berharga, antara
lain perabot rumah tangga, lempengan-lempengan tanah yang berhiaskan gambar
binatang dan pohon beringin, serta sisi-sisi bangunan gedung maupun sisi-sisi
benteng. Bangunan tersebut paling banyak ditemukan di kampong Mohenjo-Daro.
Oleh karena itu para ahli memperkirakan bahwa masyarakat yang tinggal di sungai
Indus sudah mempunyai peradaban[6] yang tinggi. Adanya perabot rumah tangga menandakan bahwa mereka sudah
hidup bermasyarakat dan mempunyai kemampuan mengelola dan menyajikan
makananseperti layaknya manusia sekarang.
Invansi Bangsa
Arya
Banyak ahli sejarah menduga
bahwa peradaban Mohenjodaro dan Harappa runtuh akibat
serbuan bangsa Arya. Pengetahuan mengenai awal bangsa Arya diperoleh dari kitab
Regweda, yang merupakan kitab tertua dan paling suci bagi umat Hindu. Kitab
tersebut berisi beberapa informasi sejarah mengenai bangsa Arya dan suku-suku
asli bangsa India.[7]
Bangsa Arya
diperkirakan masuk di India antara 2000 dan 1000 tahun sebelum Masehi masuklah
ke India dari sebelah utara. Kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum
sabangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan
Hindu Kush.
Bangsa Arya
itu, yang termasuk induk bangsa Indo-Eropa, mula-mula adalah bangsa pengembara.
Dari tempat mereka terakhir didaerah Asia pusat sebagaian dari mereka memasuki
dan menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Punjab (5 sungai). Di
sepanjang sungai Sindhu terdapat suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah
tinggi sekali tingkatnya. Peradaban iti berpusat di kota-kota yang diperkuat.
Dengan benteng-benteng.
Setelah datang
di India mereka menentap di dataran sungai Sindhu yang pada zaman itu masih
subur, jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam
beberapa hal mereka sangan berbeda dengan bangsa Dravida. Kemudian mereka lebih
jauh memasuki India sampai di tepi sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan.
Tetapi di situ mereka makin bercampur dengan bangsa Dravida dan dengan
demikianlah terwujudlah akhirnya suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan
Dravida yang tua itu dengan kebudayaaan Arya terjadilah kemudian kebudayaan
India. [8]
Jadi dapatlah
dikonstatir dengan jelas, bahwa agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua buah
sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan pikiran keagamaan dua bangsa
yang belainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi
kemudian lebur jadi satu.
Bangsa Arya
datang dengan membawa bahasa Sansekerta. Mereka juga memperkenalkan system
kasta, yang menempatkan orang-orang ke dalam bermacam-macam kasta atau warna
berdasarkan kedudukan. [9]
[1]
Mukti Ali, Agama-Agama Didunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988),
h. 93, Cet I
[2]
Djam’annuri, Agama Kita: Perspektif sejarah agama-agama (Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta, 2002), h. 35, cet II
[3]
Harun Hadiwijono, Agana Hindu dan Budha (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia,
2008), h. 9, Cet 15
[4]
A.G. Honig, Ilmu Agama (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), h. 78, cet VIII
[5]
Nana Supriyatna, Sejarah (Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006), h. 65
[7]
Nana Supriyatna, Sejarah (Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006), h. 65
[8]
A.G. Honig, Ilmu Agama (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), h. 78, cet VIII
Sejarah Agama Hindu
I.
Pendahuluan
Sebelum
mengupas habis tentang Agama Hindu, terlebih dahulu kita perlu membicarakan
bangsa yang menganut dan membawanya. Sejarah merupakan faktor penting dalam
memahami sebuah agama, termasuk Agama Hindu. Dengan begitu bisa mengetahui
latar belakang berdirinya dan keadaan sosial, politik maupun spiritual yang
terjadi saat itu.
Maka setidaknya
itulah yang melatarbelakangi penulisan makalah ini, meskipun didalamnya hanya
menyinggung sebagian kecil dari sejarah munculnya Agama Hindu sejauh pemahaman
pemakalah dari sumber yang tersedia.
II.
Peradaban
Bangsa Dravida dan Bangsa Arya
India termasuk salah satu tonggak peradaban tertua di dunia dengan
situsnya di sekitar lembah Sungai Indus. Dari penemuan fosil-fosil, tampak
bahwa di daerah itu terdapat dua tipe penduduk. Pertama, penduduk asli dengan ciri-ciri: kulit gelap, kecil dan pendek,
hidung lebar dan pesek dengan bibir tebal menonjol. Keturunan dari tipe ini
sampai sekarang masih dapat kita jumpai di antara kasta rendah masyarakat
India. Kedua, mereka yang seketurunan
dengan suku Mediteranian. Ini berhubungan erat dengan orang-orang yang hidup
pada masa pradinasti di Mesir, Arab, dan Afrika Utara. Kulit mereka lebih
terang, berbadan tegap, hidung mancung, dan bermata lebar[1].
A.
Bangsa Dravida Suku
Asli India
Bangsa-bangsa yang peradabannya mirip dengan kebudayaan bangsa
Sumeria di daerah Sungai Eufrat dan Tigris, telah menetap di Lembah Sungai
Sindhu (Indus) antara 3000 tahun sampai 2000 tahun Sebelum Masehi. Berbagai cap
dari pada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan
binatang, menceritakan kepada kita adanya persesuaian di dalam peradaban
tersebut[2].
Sisa-sisa kebudayaan di Lembah Sungai Indus, terutama terdapat di
dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara Karachi. Orang-orang di kota
tersebut telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.
Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai “bangsa Dravida”[3]. Mereka
adalah bangsa-bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih, berperawakan
kecil dan berambut keriting.
Pada mulanya mereka tinggal di seluruh negeri, zaman ini sering disebut zaman Chalcolithic [4]. Tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan
memerintah negerinya sendiri, karena di sebelah utara mereka hidup sebagai
orang taklukan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu.
Peradaban lembah
Indus pernah berlangsung di lembah Sungai Indus sejak 3.000-500 SM. Mungkin dimulai sebagai penggembala yang pindah ke lembah sungai selama
musim dingin. Seiring waktu, mereka
mungkin telah memutuskan untuk bercocok tanam.
Mereka mulai berdagang dengan perahu sepanjang
Indus turun ke Laut Arab, ke Teluk Persia, dan naik Tigris dan Efrat ke
Mesopotamia[5].
B.
Bangsa Arya di
India
Dalam kamus New Oxford Dictionary 2009, menyebutkan
bahwa Arya berart[6]i;
a member of a people speaking an Indo-European language who invaded
northern India in the 2nd millenniumbc, displacing the Dravidian and other
aboriginal peoples
Sekitar 1.500 tahun SM, bangsa Arya sebagai
pejuang dan gembala yang tangguh, berpindah ke selatan menyeberangi Pegunungan
Hindu Kush untuk berdiam di anak benua India. Bencana alam berupa musim kemarau
atau wabah penyakit, atau perang saudara memaksa bangsa Arya meninggalkan
kampung halaman di Rusia selatan. Mereka menyebar ke Anatolia, Persia, dan
India. Mereka hidup dalam rumah-rumah kayu di desa terpencil, tidak seperti
penduduk kota yang tinggal dalam rumah-rumah berbatu bata di lembah Sungai
Indus[7].
Mungkin
sekali bangsa-bangsa Arya itu, ketika mereka masuk ke India, kurang beradab dibandingkan
bangsa Dravida yang ditaklukkannya. Tetapi, mereka lebih unggul di dalam ilmu
peperangan dibandingkan bangsa Dravida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India,
Mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomaden (pengembara), yang baginya
peternakan lebih dibutuhkan daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda dan
lembu adalah binatang-binatang yang sangat dihargai sehingga binatang-binatang
tersebut dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Dravida yang tinggal di
kota-kota dan yang mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di
sepanjang pantai, maka bangsa Arya bisa dikatakan lebih primitif. Misalnya saja
bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa sedangkan bangsa Dravida sudah[8].
Peta
persebaran bangsa Arya yang merupakan nenek moyang dari bangsa Iran dan Irak
sekarang.
III.
Runtuhnya
Peradaban Mohenjodaro
Menurut
Mitchael Witzel seorang guru besar di Universitas Harvad dalam buku The Home
of Aryans tahun 1750 sebelum Masehi, peradaban Harappa mulai mengalami
perubahan baik dalam sifat manfaat maupun
lingkungan kotanya. Barang-barang yang ditemukan sebelumnya sudah lenyap dan
rumah-rumah mengecil. Di sebelah selatan Mohenjo-daro dekat Indus yaitu kota
Chanhu-daro merupakan golongan kota yang mengalami kehancuran peradaban Indus, yang
disebut sebagai kota yang bernama Jhkar dan Jhanger.
Lanjutnya, tahun 1700 peradaban
Indus yang pernah berjaya itu berakhir,
disebabkan karena banjir akibat gerakan bumi. Perhiasan ditemukan pada
tempat yang tinggi di Mohenjodaro, alat masak ditemukan berserakan dan kepingan tiang telah terbakar,ditemukan
juga beberapa kerangka orang yang melarikan diri waktu terjadi bencana atau waktu
dibantai oleh penjajah. Begitu pula dengan Harappa telah sangat hancur, kota
kerajaan dengan benteng yang sangat menakjubkan telah hilang dan lenyap secara
drastis[9]. Jadi sebelum bangsa Arya melakukan invasi ke
Peradaban India Kuno, perabadan disana sudah hilang.
IV.
Interaksi
Peradaban Bangsa Dravida dengan Bangsa Arya
Dimasa tertulisnya kitab-kitab suci Hindu, telah didiami oleh bangsa Arya.
Bangsa itu berwarna putih, tubuhnya
besar dan kuat. Mereka berasal dari Asia Tengah dan kemudian hari menduduki
Iran, Mesopotamia dan Eropa Selatan. Sebagian
dari bangsa itu pindah dari Iran ke India melalui pegunungan Hindu Kush dan menaklukkan
bangsa asli di daerah Punjab atau negeri Lima Sungai. Mereka juga mendesak
penduduk asli yaitu bangsa Dravida ke India bagian selatan. Lambat laun bangsa
Arya itu bercampur dengan bangsa asli dari bagian India Tengah dan Selatan,
ialah bangsa Dravida yang berwarna hitam.Kebudayaan bangsa Dravida mungkin
lebih tua lagi dari pada kebudayaan bangsa Arya.[10]
Orang Arya mengukur kekayaan dari jumlah ternak yang dimiliki.
Sekalipun tidak semaju penduduk asli India, mereka lebih tangguh. Mereka
dikenal sebagai prajurit dan penjudi, senang memakan daging sapi dan minum
anggur serta menyukai music, tari, dan perlombaan balap kereta perang.
Perlahan, mereka pun menetap dan mengadopsi banyak cara hidup penduduk asli
India, yaitu menjadi petani dan pandai besi. Padi adalah salah satu tanaman
yang dibudidayakan. Sebelumnya, bangsa Arya tidak mengenal padi, walaupun padi
telah ditanam di lembah Sungai Indus[11].
Dalam bidang bahasa, seni dan sastra bangsa
Dravida independen namun banyak terpengaruh oleh Bangsa Arya. Bahasa Sanskrit
di bawa oleh bangsa Arya, rumpun bahasa Indo Eropa (Persia +
Yunani+Latin+Inggris) Kesamaan arti rumpun bahasa Indo Eropa: pitâ
(Sanskrit), patër (Yunani), pater (Latin), vater (Jerman),
vader (Belanda), father (Inggris).
Semuanya berarti: ayah. Yang kemudian bahasa Indo Eropa sebagai bahasa ibu;
setelah itu Hindi & Bengali. Bahasa Sanskrit eksis dalam tiga bentuknya
masa Magadha ( abad 4 SM) [12]:
o
Sanskrit Brahmana
o
Sastra
o
Untuk politik, hukum, dan seni
Sanskrit lebih
pantas dianggap sebagai eskpresi kesusastraan pada masa Weda karena Sanskrit
dialeknya berbeda dengan Sanskrit yang berlaku di lokalitas lainnya.
Bangsa Arya merasa dirinya lebih tinggi dari pada bangsa Dravida.
Untuk menjaga kemurnian darahnya, mereka menciptakan sistem kasta (warna)
dalam masyarakat. Ada empat kasta (catur warna) di India, yaitu
1.
Kasta Brahmana
(golongan pendeta, kasta tertinggi)
2.
Kasta Ksatria
(golongan bangsawan dan prajurit),
3.
KastaWaisya
(golongan pedagang dan buruh), dan
4.
KastaSudra
(golongan petani dan buruh kasar).
Ada golongan
yang paling rendah derajatnya, yaitu golongan budak yang disebutkasta Paria atau Candala[13].
V.
Interaksi Kepercayaan
dan Agama Sungai Indus, Lahirnya Hindu
Jauh sebelum bangsa Arya masuk ke
India Kuno, bangsa asli India, bangsa Dravida sudah memiliki kepercayaan. Obyek yang paling umum dipuja-puja
orang nampaknya adalah tokoh“Mother Goddess”, yaitu tokoh semacam
ibu pertiwi, yang banyak dipuja orang di daerah Asia kecil. Dia digambarkan pada banyak lukisan kecil pada periuk
belanga serta pada materi maupun jimat-jimat. Dewi-dewi yang lain
nampaknya juga digambarkan dengan bentuk
tokoh bertanduk, yang berpadu dengan pohon suci pipala. Seorang
Dewa yang bermuka tiga dan bertanduk dijumpai lukisannya pada salah sebuah
materi batu, dengansikap duduk dikelilingi oleh binatang. Tokoh ini
dipersamakan dengan tokoh Siwa-Mahadewa pada zaman kemudian. Dugaan ini
kemudian diperkuat oleh penemuan gambar lingam yang merupakan lambang
Siwa[14].
Sebagai dampak dari berkembangnya
budaya Indo-Eropa adalah munculnya Agama Hindu. Menurut sejarahnya, Agama Hindu
mempunyai usia yang cukup tua dan panjang, dan merupakan agama yang pertama
kali dikenal oleh umat manusia. Kami mencoba mendefinisikan kapan dan dimana
Hindu di sebarkan dan berkembang. Agama Hindu pada kelanjutannya telah
melahirkan kebudayaan yang sangat kompleks baik dalam bidang astronomi, ilmu
pertanian, filsafat, dan ilmu-ilmu yang lain. Sehingga kadang ada kesan rumit
ketika kita berniat memahami ajaran Agama Hindu[15].
Perkembangan Agama Hindu di India
pada dasarnya terjadi selama empat fase. Zaman Weda, zaman Bharmana, zaman
Upanisad dan zaman Budha[16]. Zaman
Weda disinyalir telah berkembang pada masa perdaban Mohenjodaro dan Harappa.
Bukti yang menunjukan fase ini adalah adanya patung yang menyerupai perwujudan
Siwa. Selain itu pada masa ini masyarakat India kuno juga telah menyembah
dewa-dewa. Tetapi kepastian dimulainya fase Weda adalah pada masa Bangsa Arya
berada di Punjab di lembah sungai Indus sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi.
Setelah
terdesak bangsa Dravida akhirnya hijrah ke arah Selatan di dataran tinggi
Dekkan, dan sebagian ada yang membaur dan berasimilasi dengan kebudayaan bangsa
Arya. Bangsa Arya sendiri telah menyembah beberapa dewa, Surya (Dewa
Matahari), Soma (Dewa Bulan), Agni (Dewa
Api), Indra (Dewa Hujan),dan
Yama (Dewa Maut). Untuk memuja para dewa itu, orang mengadakan upacara sesaji. Kepercayaan bangsa Arya kemudian bercampur dengan
kepercayaan bangsa Dravida. Hasil percampuran itu dikenal sebagai agama
Hindu.
VI.
Kesimpulan
Bangsa
Dravida yang merupakan suku asli di India kuno terdesak oleh datangnya bangsa
Arya, Indo-Eropa sampai ke sebelah selatan India, di lembah sungai Indus. Pada
mulanya bangsa Arya ini tetap mempertahankan kemurnian keturunan mereka, tetapi
karena jumlah mereka semakin banyak sehingga melakukan persebaran penduduk
hingga sampai di daerah Gangga yang ditempati bangsa Dravida dan terjadilah
asimilasi dengan penduduk lokal setempat.
Bahasa Dravida
yang independen, kemudian banyak dipengaruhi bahasa bangsa Arya akibat dari
asimilasi. Bahasa Sanskrit, rumpun bahasa Indo Arya (Persia +
Yunani+Latin+Inggris) Kesamaan arti rumpun bahasa Indo Eropa: pitâ
(Sanskrit), patër (Yunani), pater (Latin), vater (Jerman),
vader (Belanda), father (Inggris).
Semuanya berarti: ayah.
Dari
hasil asimilasi lainnya, antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Dravida dan
bangsa Arya ini lahirlah Hindu. Pada mulanya istilah Hindu digunakan untuk
orang-orang yang tinggal di daerah lembah sungai Indus, yang merupakan hasil
asimilasi atau sinkrestisme dari kebudyaaan dan kepercayaan bangsa Dravida dan
bangsa Arya. Namun, istilah Hindu sekarang digunakan untuk orang yang menganut
agama Hindu.
Daftar Pustaka
Ali, Mukti.
Agama-Agama di Dunia. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press. Cet ke- I
1988.
Bull, Victoria
(editor). New Oxford Dictionary. China : Oxford University Press. 2009
Erdosy, G. (ed.),The Indo-Aryans of Ancient
South Asia. (Indian Philology and South Asian Studies, IPSAS) 1, Berlin/New
York: de Gruyter. 1995.
Honing, A. G. Ilmu
Agama. (diterjemahkan Koesoemosoesastro dan Soegiarto). Jakarta : BPK
Gunung Mulia.
Ibrahim, Asma. The
Indus Valley Civilization.
Nigosian, S. A.
World Faiths. New York : St. Martin’s press. 1990.
Noss , John B. Man’s
Religion. New York :The Macmilan Company. 1949.
Rifa’I,
Mohammad. Perbanding Agama. Semarang: Wicaksana. Cet ke – 5. 1980.
Schade,
Johannes P. Encyclopedia of World Religions. New York: Concord
Publishing. 2006
Syahrastani,
Asy-, Muhammad. Al-Milal wa an-Nihal. Kairo : Maktabah, Juz II. 1968
Witzel, Mitchael. The Home of Aryans. New York : Harvad
University Press.
[1] S. A. Nigosian. World Faiths. (New
York : St. Martin’s press, 1990). h. 251.
[2] A.G.
Honig Jr. Ilmu Agama. (diterjemahkan
Koesoemosoesastro dan Soegiarto). (Jakarta: Gunung Mulia, 2005) . h.77
[3]Johannes
P. Schade. Encyclopedia of World Religions. (New York: Concord
Publishing, 2006). h. 273
[4] Chalcolithic adalah nama yang diberikan untuk
periode di Timur Dekat
dan Eropa setelah Neolitik dan Zaman
Perunggu, kira-kira antara sekitar
4500 dan 3500 SM.
[5] S. A.
Nigosian. World Faiths. (New York : St. Martin’s press, 1990). h. 254
[6]
Victoria Bull (editor). New Oxford Dictionary. (China : Oxford
University Press. 2009). h. 20
[7]Johannes
P. Schade. Encyclopedia of World Religions. h. 73
[8]
A.G.
Honig Jr. Ilmu Agama. (diterjemahkan
Koesoemosoesastro dan Soegiarto). 78-79
[9]
Mitchael Witzel. The Home of Aryans. ( New York : Harvad University
Press, )
[10]John
B. Noss. Man’s Religion.( New York : The Macmilan Company, 1949) h. 97
[11]
Mohammad Rifa’I. Perbanding Agama. (Semarang : Wicaksana, 1980). Cet ke
– 5. h. 83-85
[12]
S.
A. Nigosian. World Faiths. h. 252
[13]
Asma Ibrahim. The Indus Valley Civilization.
[14]
G. ERDOSY (ed.),The
Indo-Aryans of Ancient South Asia, (Indian Philology and South Asian
Studies, IPSAS) 1, Berlin/New York: de Gruyter 1995. h 155-173.
[15]
Johannes
P. Schade. Encyclopedia of World Religions. h. 407
[16]Muhammad
Asy Syahrastani. Al-Milal wa an-Nihal. (Kairo : Maktabah, 1968) Juz II.
h. 10










