Rabu, 07 November 2012
Peradaban Mohenjodaro dan Harrapa
I.
PENDAHULUAN
India adalah negeri yang serba
ganda, ganda dalam suku bangsa, ganda dalam budaya, dan ganda dalam soal
kepercayaan. Oleh sebab itu, mempelajari agama Hindu terasa mengalami
kesulitan. Jika kita lihat dari sudut pandang ilmu bangsa-bangsa, India adalah
tanah yang beraneka ragam dan akibatnya ialah orang dapat melihat suatu
kebudayaan yang beraneka ragam. Jika kita ibaratkan, agama Hindu itu seperti
pohon besar yang memiliki cabang yang sangat banyak yang melambangkan berbagai
pemikiran keagamaan.
Namun itu tidak menyurutkan niat
penulis untuk membuat makalah ini. Dan untuk mempermudah dalam pemahaman,
penulis berusaha menunjukan garis-garis
besar yang menghubungkan berbagai gejala dan aliran itu yang satu dengan yang
lain .
II.
Asal Usul Agama Hindu
Agama Hindu adalah agama yang tertua
di dunia. Di India, agama Hindu sering disebut dengan nama Sanatana Dharma
yang berarti agama yang kekal, atau Waidika Dharma, yang berarti agama
yang berdasarkan kitab suci Weda.[1]
Nama Hindu yang sekarang lazim
dikenal dan telah dipergunakan secara umum di seluruh dunia, merupakan nama
asing karena nama itu diberikan oleh orang yang bukan Hindu.[2]
Nama India dijelaskan dari nama sungai Sindbu, yang mengairi daerah barat
India. Bangsa Persia menyebut sungai itu sungai Hindu. Kemudian nama ini
diambil alih oleh orang Yunani, sehingga nama itulah yang terkenal di dunia
barat. [3]
III.
Sejarah India Kuno
Agama Hindu
adalah agama agama pokok yang dianut di kawasan India. Agama ini banyak
didasarkan pada beberapa naskah suci yang ada. Tidak seperti agama-agama lain,
dalam agama Hindu tidak dapat diketahui secara pasti siapa pembawa pertama
ajaran-ajarannya. Ini merupakan salah satu kesulitan dalam mempelajari agama
Hindu.
Sejarah
kebudayaan India dimulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang
besar di Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi,
rupa-rupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang peradabannya
menyerupai kebudayaan bangsa Sumeri didaerah sungai Eftar dan Tigris. Berbagai
cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan
lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita adanya persesuaian di dalam
peradaban tersebut. Sudah pasti, bahwa di dalam zaman itu di sepanjang pantai
dari laut tengah sampai keteluk benggala terdapat sejenis peradaban yang sama
dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi. Sisa-sisa kebudayaan
tersebutterutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara
Karachi. Bahkan di situ diketemukan sisa-sisa sebuah kota Mohenjodaro, di mana
ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertangga.[4]
Menurut para
sarjana, agama Hindu terbentuk dari campuran antara agama India asli (bangsa
Dravida) dengan agama atau kepercayaan bangsa Arya.
Peradaban
Lembah Sungai Indus
Peradaban India kuno dikenal
sebagai peradaban Lembah sungai Indus. Luas geografi wilayah peradaban ini
meliputi 1,25 juta km atau seluas Pakistan sekarang. Dua kota yang sangat
terkenal ini adalah Mohenjodaro di wilayah Pakistan Selatan sekarang dan
Harappa di daerah Punjab.
Kemakmuran
peradaban Lembah Sungai Indus sangat bergantung pada intensifikasi pengelolaah
lahan pertanian di sepanjang lembah. Di kawasan ini, petani mengembangkan
budaya agraris. Dari hasil itu, mereka mampu menghasilkan gandum, sayuran, dan
kapas. Petani juga beternak sapi, kerbau, dan babi.
Peradaban
sungai Indus berkembang selama kurang lebih seribu tahun. Namun,peradaban
tersebut tampak muncul secara singkat dalam sejarah peradaban umat manusia
karena mengalami kehancuran.[5]
Peradaban Mohenjodaro dan Harappa
Dalam mempelajari peradaban dunia nama Indus lebih jauh
lebih popular. Hal itu berhubungan dengan adanyapenemuan besar pada apabd ke 20
oleh jawaran Pemeriksaan kebudayaan kuno di India. Ketika itu mereka sedang
melakukan penggalian tanah di sebuah kampong bernama Mohenjo-Daro dan Harappa
yang berada ditepi lembah sungai Indus.
Penggalian itu menghasilkan barang-barang berharga, antara
lain perabot rumah tangga, lempengan-lempengan tanah yang berhiaskan gambar
binatang dan pohon beringin, serta sisi-sisi bangunan gedung maupun sisi-sisi
benteng. Bangunan tersebut paling banyak ditemukan di kampong Mohenjo-Daro.
Oleh karena itu para ahli memperkirakan bahwa masyarakat yang tinggal di sungai
Indus sudah mempunyai peradaban[6] yang tinggi. Adanya perabot rumah tangga menandakan bahwa mereka sudah
hidup bermasyarakat dan mempunyai kemampuan mengelola dan menyajikan
makananseperti layaknya manusia sekarang.
Invansi Bangsa
Arya
Banyak ahli sejarah menduga
bahwa peradaban Mohenjodaro dan Harappa runtuh akibat
serbuan bangsa Arya. Pengetahuan mengenai awal bangsa Arya diperoleh dari kitab
Regweda, yang merupakan kitab tertua dan paling suci bagi umat Hindu. Kitab
tersebut berisi beberapa informasi sejarah mengenai bangsa Arya dan suku-suku
asli bangsa India.[7]
Bangsa Arya
diperkirakan masuk di India antara 2000 dan 1000 tahun sebelum Masehi masuklah
ke India dari sebelah utara. Kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum
sabangsanya di Iran dan yang memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan
Hindu Kush.
Bangsa Arya
itu, yang termasuk induk bangsa Indo-Eropa, mula-mula adalah bangsa pengembara.
Dari tempat mereka terakhir didaerah Asia pusat sebagaian dari mereka memasuki
dan menetap di dataran tinggi Iran, dan sebagian lagi di Punjab (5 sungai). Di
sepanjang sungai Sindhu terdapat suatu peradaban bangsa Dravida yang sudah
tinggi sekali tingkatnya. Peradaban iti berpusat di kota-kota yang diperkuat.
Dengan benteng-benteng.
Setelah datang
di India mereka menentap di dataran sungai Sindhu yang pada zaman itu masih
subur, jadi di daerah itu mereka telah menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam
beberapa hal mereka sangan berbeda dengan bangsa Dravida. Kemudian mereka lebih
jauh memasuki India sampai di tepi sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan.
Tetapi di situ mereka makin bercampur dengan bangsa Dravida dan dengan
demikianlah terwujudlah akhirnya suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan
Dravida yang tua itu dengan kebudayaaan Arya terjadilah kemudian kebudayaan
India. [8]
Jadi dapatlah
dikonstatir dengan jelas, bahwa agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua buah
sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan pikiran keagamaan dua bangsa
yang belainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi
kemudian lebur jadi satu.
Bangsa Arya
datang dengan membawa bahasa Sansekerta. Mereka juga memperkenalkan system
kasta, yang menempatkan orang-orang ke dalam bermacam-macam kasta atau warna
berdasarkan kedudukan. [9]
[1]
Mukti Ali, Agama-Agama Didunia (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988),
h. 93, Cet I
[2]
Djam’annuri, Agama Kita: Perspektif sejarah agama-agama (Yogyakarta:
Kurnia Kalam Semesta, 2002), h. 35, cet II
[3]
Harun Hadiwijono, Agana Hindu dan Budha (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia,
2008), h. 9, Cet 15
[4]
A.G. Honig, Ilmu Agama (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), h. 78, cet VIII
[5]
Nana Supriyatna, Sejarah (Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006), h. 65
[7]
Nana Supriyatna, Sejarah (Jakarta: Grafindo Media Pratama, 2006), h. 65
[8]
A.G. Honig, Ilmu Agama (Jakarta: Gunung Mulia, 1997), h. 78, cet VIII






0 komentar:
Posting Komentar